Cari Blog Ini

Memuat...

Rabu, 13 Maret 2013

Resensi Novel Azab dan Sengsara


 
AZAB DAN SENGSARA

Judul buku      : Azab Dan Sengsara
Pengarang       : Merary Siregar
Penerbit           : Balai Pustaka, 2005
Tebal               : xi + 163 halaman
Ini cerita yang terjadi dalam lingkungan masyarakat Minangkabau dengan segenap adat istiadat yang melingkupinya. Tempat terjadinya  cerita ini di dearah  kota Sipirok Padang,  hidup seorang bangsawan kaya raya. Bangsawan kaya raya ini mempunyai seorang anak laki-laki. Anaknya yang laki-laki bernama Sutan Baringin. Sutan Baringin sangat dimanjakan oleh ibunya. Segala keinginan Sutan Baringin selalu dituruti oleh ibunya. Akibatnya, setelah Sutan Baringin besar, ia tumbuh menjadi seorang pemuda yang angkuh, keras, berperangai jelek, dan suka berfoya-foya.
Sutan Baringin oleh kedua orang tuanya dikawinkan dengan Nuria, seorang perempuan baik-baik pilihan ibunya. Walaupun sudah berkeluarga, Sutan Baringin masih suka berfoya-foya menghabiskan harta orang tuanya. Dia suka berjudi bersama Marah Sait, sahabatnya. Sewaktu ayah Sutan Baringin meninggal dunia, Sutan Barin  Baringin bangkrut, dan memiliki banyak hutang.
Sutan Baringin mempunyai dua orang anak hasil perkawinannya dengan Nuria. Anaknya yang satu adalah perempuan bernama Mariamin. Sedangkan satunya lagi laki-laki (namun tidak di ceritakan oleh pengarangnya). Akibat tingkah ayahnya yang suka berjudi dan banyak hutang itu, Mariamin menjadi seorang  anak yang cukup di hina di kampungnya kerena kemiskinan kedua orang tuanya. Cinta perempuan yang baik hati ini dengan seorang pemuda bernama Aminuddin terhalang oleh kemiskinan yang di alami Mariamin.
Aminuddin adalah anak Baginda Diatas, seorang bangsawan kaya yang sangat di segani di daerah Sipirok. Sebenarnya Baginda Diatas masih mempunyai hubungan sepupu dengan Sutan Baringin, ayah Mariamin. Ayah Baginda Diatas dengan ayah Sutan Baringin adalah kakak-beradik. Aminuddin dan Mariamin sudah bersahabat sejak kecil. Setelah keduanya sama-sama dewasa, mereka sama-sama saling jatuh cinta. Aminuddin sangat mencintai Mariamin,dan berjanji pada Mariamin dia akan melamar Mariamin setelah dia mendapat pekerjaan. Keadaan keluarga Mariamin yang miskin bukanlah masalah bagi Aminuddin. Niat Aminuddin untuk menikahi Mariamin, dia beritahukan kepada kedua orang tuanya. Ibu Aminuddin tidak keberatan dengan niat Aminuddin itu. Karena ibu Aminuddin sudah sangat mengenal baik siapa keluarga Mariamin. Keluarga Mariamin masih termasuk keluarga mereka juga. Selain itu, ibu Aminuddin juga merasa kasihan kepada keluarga Mariamin yang miskin. Dengan menikah dengan Aminuddin anaknya, dia berharap keadaan ekonomi keluarga Mariamin bisa terangkat lagi.
Namun, ayah Aminuddin yaitu Baginda Diatas tidak setuju dengan niat Aminuddin untuk menikah dengan Mariamin. Kalau Aminuddin menikah dengan Mariamin, Baginda Diatas akan merasa malu. Karena dia adalah seorang keluarga bangsawan yang terpandang dan kaya raya, sedangkan keluarga Mariamin adalah keluarga miskin. Namun ketidak setujuannya tidak di perlihatkan secara terbuka pada istrinya dan Aminuddin anaknya. Baginda Diatas dengan cara yang halus berusaha menggagalkan usaha Aminuddin untuk menikahi Mariamin. Salah satu usaha yang di lakukan Baginda Diatas adalah membawa istrinya pergi ke dukun, untuk meramal peruntungan Aminuddin kalau nantinya menikah dengan Mariamin. Namun sebelum dia dan istrinya berangkat ke rumah dukun itu, sebelumnya Baginda Diatas sudah titip pesan pada dukun itu agar memberi jawaban bahwa Amiinuddin tidak akan beruntung jika menikah dengan Mariamin. Baginda Diatas dan istrinya bertemu dukun itu . Disaksikan sendiri oleh istrinya, dukun itu mulai meramal peruntungan perkawinan Aminuddin dengan Mariamin. Jawaban dukun itu sangat menguntungkan Baginda Diatas, karena memang begitulah pesannya.  Sang dukun mengatakan dengan tegas bahwa Aminuddin akan mengalami nasib jelek jika menikah dengan Mariamin. Ibu Aminuddin tidak bisa berbuat apa-apa setelah mendengar jawaban dukun itu. Ibu Aminuddin juga dengan terpaksa menuruti kehendak suaminya untuk segera mencarikan jodoh yang sesuai untuk Aminuddin. Kedua orang tua Aminuddin pun langsung melamar seorang perempuan berada menurut pilihan mereka. Setelah si perempuan dilamar, Baginda Diatas langsung mengirim telegram kepada Aminuddin yang sedang mencari pekerjaan di Medan. Telegram itu berisi berita bahwa Aminuddin disuruh menjemput calon istri dan keluarganya di Stasiun Kereta Api Medan. Sewaktu menerima telegram, Aminuddin sangat gembira. Karena dia menyangka bahwa calon istrinya yang akan dia jemput di Stasiun Kereta Api itu adalah Mariamin. Tetapi, setelah bertemu di Stasiun Kereta Api, ternyata calon istrinya bukanlah Mariamin, Aminuddin pun sangat kecewa. Namun sebagai anak yang harus berbakti pada kedua orang tua, dengan terpaksa Aminuddin menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya itu. Kenyataan itu Aminuddin beritahukan pada Mariamin. Mendapat berita itu Mariamin sangat sedih, hatinya hancur.
Setahun setelah kejadian itu, Mariamin dan ibunya terpaksa menerima lamaran dari Kasibun seorang kerani di Medan. Kasibun waktu itu mengaku bahwa dia masih lajang. Karena Kasibun bekerja di Medan, Mariamin kemudian di bawanya ke Medan. Sampai di Medan barulah terbuka siapa Kasibun sebenarnya. Kasibun adalah lelaki hidung belang. Sebenarnya Kasibun sebelum menikah dengan Mariamin sudah mempunyai istri. Istrinya di ceraikan karena akan menikah dengan Mariamin. Hati Mariamin sangat terpukul mengetahui kenyataan itu. Namun sebagai seorang istri yang beragama, walaupaun dia benci dan tidak mencintai suaminya, Mariamin tetap berusaha menjadi seorang istri yang baik.
Kerlakuan Kasibun pada Mariamin sangat keterlaluan, setelah Aminuddin pulang bertamu dari rumah mereka. Kasibun begitu cemburu pada Aminuddin, menurutnya cara penyambutan Mariamin pada Aminuddin sangat berlebihan. Padahal Mariamin menyambut Aminuddin biasa saja. Akibat kecemburuannya itu, Kasibun menyiksa Mariamin habis-habisan.Perlakuan kasar Kasibun yang terus-terusan itu membuat Mariamin hilang kesabaran. Dia sudah tidak tahan lagi hidup menderita disiksa tiap hari oleh Kasibun. Akhirny Mariamin melaporkan perbatan suaminya pada polisi di Medan. Mariamin langsung minta cerai dari Kasibun, dan permintaan cerainya dikabulkan oleh hakim agama di Padang.
Setelah bercerai dengan Kasibun, Mariamin kembali ke kampung halamannya dengan perasaan penuh kesedihan. Kesengsaraan dan penderitaan batin serta fisiknya terus mendera Mariamin dari kecil hingga dia meninggal dunia.
Azab dan sengsara termasuk salah satu novel Pujangga Angkatan 20 atau Angkatan Balai Pustaka. Menurut para pakar sastra atau ahli sastra novel ini adalah novel pertama Indonesia. Pengarang novel ini adalah Merary Siregar. Ini termasuk novel yang menceritakan tentang adat istiadat, yaitu adat istiadat orang Minangkabau. Tempat terjadinya di daerah Sipirok Padang dan Medan Sumatera Utara.
Novel ini mempermasalahkan tentang kawin paksa, dimana masalah-masalah perjodohan anak-anak muda masih ditentukan oleh kedua orang tua mereka. Novel ini menceritakan tentang azab yang diterima satu keluarga karena perbuatan ayahnya yang suka burjudi dan menghambur-hamburkan uang. Akibatnya dia dan keluarganya menjadi miskin dan begitu sengsara. Kesengsaraan itu terus mendera keluarga tersebut sampai akhir hayat keluarga tersebut. Namun novel ini juga memiliki kekurangan yaitu masih memakai bahasa daerah yaitu bahasa Melayu ataupun bahasa Padang. Seperti kata ‘angkang’, ‘martandang’ dan lain-lain. Bagi orang yang tidak memahami bahasa tersebut, akan sulit untuk mengerti kata-kata yang ada pada novel ini. Walaupun demikian, penulis beranggapan novel ini cukup menarik untuk dibaca karena memang ceritanya yang menarik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar